Home » » Seni Budaya Kotekan Lesung Pedesaan

Seni Budaya Kotekan Lesung Pedesaan

Kotekan Lesung/
Seni budaya kotekan lesung, sudah ada sejak zaman nenek moyang kita yang berabad-abad yang terjadi di berbagai daerah di Nusantara ini terdapat di pedesaan, hanya namanya saja yang berbeda. Ada yang menamakan Kotekan lesung, Gejok lesung, lesung jumengglung dan lainnya.  Musik ini identik dengan masyarakat petani atau pedesaan yang memang mata pencahariannya adalah petani ( masyarakat agraris ). Masyarakat pada saat itu memang masih sangat rukun dalam kehidupan bertetangga walau satu rumah dengan rumah yang lain sangat jauh tida seperti  sekarang yang penuh berdesakan. Saling bahu membahu, bergotong royong, dengan rasa ikhlas tanpa
imbalan, hanya sekedar makan itupun kalau ada, seperti mendirikan rumah, ada hajatan, kerja bakti lingkungan semua itu tida ada rasa terpaksa tetapi dikerjakan dengan rasa ikhlas dan tanggung jawab. Kotekan lengsung awalnya muncul dari kerukunan yang dibina sejak berabad-abad secara turun temurun dari daerah tersebut. Karena jaman dulu belum ada mesin penggiling padi, maka jika ada orang yang punya hajat tentunya orang kelas menengah ke atas, memerlukan beberapa orang untuk mengubah gabah/padi menjadi beras. Nah dari situlah masyarakat yang sudah sangat erat antar warga bermusyawarah. Akhirnya membuat alat yang bentuknya seperti perahu yang terbuat dari kayu yang berukuran sebesar pohon utuh. Kemudian dilubangi tengahnya persis seperti perahu nelayan. Lesung tersebut digunakan untuk menguliti gabah menjadi beras dengan dibantu alat yang namanya alu atau antan. Yang disebut nutu atau ndeplok ( menumbuk padi dengan antan). Nah......   biasanya acara gotong royong seperti ini sebelum dimulai dilakukan pemukulan lesung dengan alu bersama beberapa orang sehingga menimbulkan irama yang sangat khas bunyinya namun indah ditelinga, sambil menunggu teman yang alinnya. Setelah semua datang maka diadakan kenduri adat mereka untuk memohon berkah kepada Tuhan agar dalam punya hajat diberikan oleh Allah keselamatan yang dipimpin oleh sesepuh dusun tersebut. Selesai kenduri merekan langsung menumbuk padi yang sudah dimasukkan kedalam lesung terebut. Setelah ditumbuk menjadi beras maka ada petugas yang mengumpulkan beras tersebut kemudian ditampi oleh petugas penampi beras dengan menggunakan tempeh atau tampah atau nyiru atau... yah  banyak namanya di Indonesia ini. Kemudian lesung diisi lagi dengan gabah lagi. begitu seterusnsnya. Rata-rata orang terlibat dalam acara ini adalah para ibu-ibu yang sudah berumur, mereka sangat bersemangat dan gembira. Di saat tertentu ada waktu dipakai untuk memainkan musik dari kotekan lesung tersebut yang iramanya diatur oleh ketua ketekan tersebut. Jangan dikira walaupun musik tradisional yang sudah usang pun punya Conduktur/Derigen. Hi..hi..hi.. lucu. Tapi memang itu adanya. Pimpinan itu mengantur anak buahnya agar menghasilkan nada yang berbeda dari berbagai sudut lesung yang di pukul dengan alu tersebut. Sehingga kalau dipadu satu dengan yang lain enak juga di dengarkan. Apalagi kalau merekan yang senang berjoget, barang kali cocok dengan irama itu. Nah itulah sedikit postinganku tentan seni kotekan lesung yang kini mungkin sudah jarang kita dengar hanya segelintir daerah yang masih beratahan sampai saat ini. Semoga tidak punah. Mari kita lestarikan. Jangan sampai dilestarikan bangsa lain. Dilestarikan bangsa lain kita ribut sendiri seperti kebakaran jenggot. Lha wong budaya kita kan ditolong orang. He... he... he..
Ini gambar-gambar kotekan lesung.


















Gambar-gambar ini diambil dari berbagai sumber.

Yang suka silakan komentar.

oleh : Taryono Pelabuhan Canggu





0 komentar:

Post a Comment