Minggu, 06 Mei 2012

Candi Kerajaan Yang Pernah Ada Di Indonesia

Candi - Candi yang Tersebar di Indonesia  

Candi adalah sebuah bangunan tempat ibadah dari peninggalan masa lampau yang berasal dari agama Hindu-Buddha. Digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa. Namundemikian, istilah 'candi' tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempatibadah saja. Banyak situs-situs purbakala lain dari masa Hindu-Buddha atau Klasik Indonesia, baik sebagai istana, pemandian/petirtaan, gapura, dan sebagainya, disebut dengan istilah candi.Candi juga berasal dari kata “Candika” yang berarti nama salah satu Dewa kematian (Durga).Karenanya candi selalu dihubungkan dengan monumen untuk memuliakan Raja yangmeninggal.

Candi Gayatri







Candi Gayatri atau Candi Boyolangu berada di tengah pemukiman penduduk di wilayah Dusun Boyolangu, Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Untuk memasuki percandian ini, harus melalui sebuah lorong selebar 2,5 m yang dibatasi tembok setinggi 75 cm dengan panjang sekitar 50 m.
Candi berbahan bata ini berdenah segi empat dengan tangga masuk di bagian barat. Candi yang tersisa baturnya saja itu berukuran 11,40 m x 11,40 m, dan ukuran penampil/ tangga masuknya adalah 2,68 m x 2,08 m. Secara horisontal, sisa bangunan itu terdiri atas sebuah candi induk dan dua candi perwara yang masing-masing berada di kiri-kanannya (utara dan selatan). Candi ini diketemukan kembali pada tahun 1914 dalam timbunan tanah.
Candi tampak berpusat pada tokoh utama berupa arca wanita berukuran besar yang diletakkan pada candi induk. Arca terebut berukuran tinggi 120 cm dengan lebar 168 cm dan tebal 140 cm. Saat ini arca tersebut ditempatkan di bawah naungan sebuah cungkup tanpa dinding. Tokoh wanita tersebut adalah Gayatri atau seorang pendeta wanita Budha masa kerajaan Majapahit yang bergelar Rajapadmi. Tokoh tersebut adalah isteri ke empat Raja Wijaya pendiri kerajaan Majapahit.
Berdasarkan pada angka tahun yang terdapat pada bangunan induk dan Kitab Nagarakertagama bahwa candi Boyolangu dibangun pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1359 - 1389 M ) dengan nama Prajnyaparamitapuri.
Candi ini dahulu berfungsi sebagai tempat penyimpanan abu Jenasah Gayatri dan sekaligus tempat pemujaan agama Budha.


Candi Sanggrahan







Atau disebut Candi Cungkup adalah candi pemujaan Hindu, letak di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Candi berbentuk bujursangkar dan terdiri dari bangunan kaki, tubuh dan atap. Candi ini peninggalan Kerajaan Majapahit, dibangun sekitar tahun 1350.
Bagian kaki candi sangat luas, tinggi dua meter, terdapat dinding relief harimau. Di bagian tangga ada reruntuhan batu bekas gapura.
Candi Panataran







Candi Panataran adalah sebuah candi berlatar belakang Hindu (Siwaitis) yang terletak di Jawa Timur, tepatnya di lereng barat daya Gunung Kelud, di sebelah utara Blitar. Kompleks candi ini merupakan yang terbesar di Jawa Timur. Candi ini mulai dibangun dari kerajaan Kadiri dan dipergunakan sampai dengan kerajaan Majapahit. Candi Penataran ini melambangkan penataan pemerintahan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa Timur.

Candi Penataran dipercaya adalah candi Palah yang disebut dalam prasasti Palah, dibangun pada tahun 1194 oleh Raja Crnga (Grenggra) yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Grengalancana Digwijayottungadewa yang memerintah kerajaan Kediri antara tahun 1190 – 1200, sebagai candi gunung untuk tempat upacara pemujaan agar dapat menetralisasi atau menghindar dari mara bahaya yang disebabkan oleh gunung Kelud yang sering meletus. Kitab Negarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca menceritakan perjalanan Raja Hayam Wuruk, yang memerintah kerajaan Majapahit antara tahun 1350 – 1389, ke candi Palah untuk melakukan pemujaan kepada Hyang Acalapati yang berwujud Girindra (raja penguasa gunung).





Kesamaan nama Girindra yang disebut pada kitab Negarakretagama dengan nama Ken Arok yang bergelar Girindra atau Girinatha menimbulkan dugaan bahwa candi Penataran adalah tempat pendharmaan (perabuan) Ken Arok, walaupun kitab yang sama menyebutkan bahwa Ken Arok dicandikan di daerah Kagenengan di wilayah selatan kabupaten Malang. Girindra juga adalah nama salah satu wangsa yang diturunkan oleh Ken Arok selain wangsa Rajasa dan wangsa Warddhana. Sedangkan Hyang Acalapati adalah salah satu perwujudan dari Dewa Siwa, serupa dengan peneladanan (khodam) sifat-sifat Bathara Siwa yang konon dijalankan Ken Arok.

Seperti pada umumnya relief candi di Jawa Timur yang dipahat berdasarkan analogi romantika hidup tokoh yang didharmakan di tempat tersebut, relief Ramayana dengan tokoh Rama dan Shinta, dan relief Krisnayana dengan tokoh Krisna dan Rukmini, yang dipahatkan pada dinding candi Penataran dapat dikatakan mirip dengan kisah Ken Arok dan Ken Dedes. Ketokohan Ken Arok sendiri masih menjadi kontroversi antara karakter seorang bandit yang berambisi memperbaiki keturunan setelah mengerti arti cahaya yang terpancar dari gua garbha milik Ken Dedes yang dilihatnya dan kemudian membunuh Tunggul Ametung yang menjadi suami sang nareswari, dengan karakter seorang bangsawan yang mengemban amanat dari mpu Purwa yang merupakan ayahanda Ken Dedes sekaligus keturunan Raja Mpu Sindok untuk mengembalikan kejayaan kerajaan Kanjuruhan yang ditaklukkan oleh kerajaan Kediri, dengan dukungan kalangan brahmana dari kedua kerajaan. Alkisah seluruh mpu dari kerajaan Kediri berpindah ke wilayah Tumapel sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dan menjadi penyebab kekalahan Kediri dalam peperangan dengan Tumapel di wilayah Ganter pada tahun 1222. Dibunuhnya mpu Gandring yang tidak menyelesaikan keris pesanan Ken Arok pada waktunya konon juga berkaitan dengan para mpu yang mulai meninggalkan kerajaan Kediri sehingga menimbulkan kecurigaan Ken Arok bahwa Mpu Gandring berpihak pada Kediri. Keris tersebut kemudian diselesaikan oleh mpu yang lain dengan demikian indah sehingga menarik perhatian dan mudah dikenali ketika Kebo Ijo memamerkannya kepada semua orang, sebelum akhirnya keris tersebut digunakan Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung.




Candi Gebang





candi Hindu yang berada di dusun Gebang, kelurahan Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. Karena berada dekat dengan kota (kira-kira 11 km di utara kota, menuju perumahan Candi Gebang dan Condong Catur), maka tempatnya sangat mudah untuk dicapai dengan menggunakan transportasi umum.
Candi yang pertama kali ditemukan pada tahun 1936 ini diperkirakan dibangun pada sekitar abad ke-10 pada saat wangsa Sanjaya berkuasa di zaman Kerajaan Mataram Kuno. Candi yang dipugar oleh Prof. Dr. Ir. van Romondt pada tahun 1937-1939 ini mempunyai ukuran kira-kira 5 meter x 5 meter dengan ketinggian 8 meter. Candi Gebang mempunyai puncak berbentuk lingga, dan pada relung sebelah barat dan timur terdapat arca Ganesa, Nandiswara dan yoni.


Candi Gembirowati





Reruntuhan candi yang berada di kalurahan Girijati, kecamatan Panggang, kabupaten Gunungkidul, DIY, yaitu di pesisir selatan dari pantai Parangtritis menuju ke arah kecamatan Panggang. Bagian dasar dari candi ini masih nampak kokoh, sedangkan bagian lengkapnya sudah tidak ada dan tidak dapat direkonstruksi lagi. Tahun pembuatan dari candi ini tidak dikenal dengan jelas, dan kemungkinan besar candi ini dipakai untuk pemujaan terhadap Nyai Loro Kidul, yaitu ratu pantai selatan Jawa.
Di dekat situs ini juga terdapat goa Cerme yang indah karena mempunyai bagian batu stalagtit dan stalagmit, sehingga banyak dikunjungi oleh wisatawan asing. Gua yang berada di desa Ploso, kalurahan Giritirto ini, memiliki sungai bawah tanah di dalam bagian dalam gua sepanjang 1,5 km. Selain gua Cerme, tidak jauh dari sini juga terdapat gua Suracala, yang banyak dikaitkan dengan sejarah dan legenda Sunan Amangkurat III.


Situs Watugilang




Berada di dekat Baturetno, di desa Gilang. Merupakan batu datar persegi empat yang masing2 sisinya terdapat relief2. Menurut cerita setempat, batu ini merupakan tempat untuk bersemedi para pendeta jaman dahulu. Di atas bidang datar batu tepat ditengah-tengah terdapat lubang berdiameter kurang lebih 10 cm, yang dalamnya sekitar 50 cm. Dan disinyalir lubang ini adalah tempat untuk menancapkan payung atau sejenis alat peneduh.


Candi Wayang
Di lereng Penanggungan kalau kita naik lewat desa Kunjoro Wesi, berjalan sekitar 5-6Km, kita akan menemukan relief candi yang dikatakan sebagai Candi Wayang. Sayang hanya tersisa relief itu saja dan bongkahan batu candi yang berserahkan.








Di atas relief Candi Wayang, terlihat bongkahan batu Candi. Sayang saya tidak menyempatkan naik ke sana.

Di Nganjuk, Jawa Timur juga ada Candi Lor, dan bentuknya juga tinggal reruntuhan, dikarenakan pohon yang "menumpang" hudup di bangunan candi sejak tahun 1866.
andi Lor diyakini sebagai monumen cikal bakal berdirinya kabupaten Nganjuk dan diperingati setiap tanggal 10 April setiap tahunnya. Dari prasasti Anjuk Ladang, diketahui bahwa Mpu Sindok, raja Mataram Hindu yang bergelar Sri Maharaja Sri Isyana Wikrama Dharmottunggadewa memerintahkan Rakai Hinu Sahasra, Rakai Baliswara serta Rakai Kanuruhan pada tahun 937 untuk membangun sebuah bangunan suci bernama Srijayamerta sebagai pertanda penetapan area Anjuk Ladang (sekarang disebut Nganjuk) sebagai area swatantra atas jasa warga Anjuk Ladang dalam peperangan.





Percandian Bumiayu meliputi lahan seluas 75,56 Ha, dengan batas terluar berupa 7 (tujuh) buah sungai parit yang sebagian sudah mengalami pendangkalan. Tanah yang sudah dikuasai oleh Pemerintah Kabupaten Muara Enim seluas 6,50 Ha, selebihnya 69,06 Ha masih dikuasai oleh masyarakat.


Candi Bumiayu
Candi ini merupakan satu-satunya Kompleks Percandian di Sumatera Selatan, sampai sekarang tidak kurang 9 buah Candi yang telah ditemukan dan 4 diantaranya telah dipugar, yaitu Candi 1, Candi 2, Candi 3 dan Candi 8. Usaha pelestarian ini telah dimulai pada tahun 1990 sampai sekarang.



Desa Bumi Ayu, Kecamatan Tanah Abang, kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Desa ini terletak kira-kira 300 KM dari kota Palembang.

Bumi Ayu dikenal dengan situs candi-candi peninggalan Hindu dari aliran Siwaisme.

Sampai saat ini sudah diketemukan 11 buah candi yang tersebar di wilayah seluas 76 HA perkebunan karet, yang dikelilingi oleh anak sungai Musi. Dari penggalian para arkeolog, maka komplek candi Bumi Ayu ini merupakan candi-candi Hindu terbesar di luar Jawa, dan dari penemuan tersimpul bahwa candi-candi ini merupakan tiruan Candi Prambanan di Jawa Tengah, didirikan pada tahun 819 Saka atau 897 Masehi.

Usaha pelestarian ini telah dimulai pada tahun 1990 sampai sekarang, dengan didukung oleh dana APBN. Walaupun demikian peran serta Pemerintah Kabupaten Muara Enim cukup besar, antara lain Pembangunan Jalan, Pembebasan Tanah dan Pembangunan Gedung Museum Lapangan. Percandian Bumiayu meliputi lahan seluas 75,56 Ha, dengan batas terluar berupa 7 (tujuh) buah sungai parit yang sebagian sudah mengalami pendangkalan.

Candi Bumi Ayu pada saat ini masih dalam proses pengkajian dan pemugaran, sehingga belum banyak informasi yang dapat diketahui, sedangkan informasi tertulis dari Candi tersebut masih dalam proses dipahami oleh Tim Pengkajian Peninggalan Purbakala Propinsi Sumatera Selatan.

Pada situs Candi, terdapat beragam arca seperti Siwa Mahaguru, Nandi, Agastya dan Narawahana. Juga terdapat peti peripih dan komponen-komponen hiasan candi yang kental dengan simbol Hindu.

Simbol Hindu pada bangunan candi terlihat pada komponen bangunan atapnya yang dinamai ratna.

Pada beberapa arca seperti Siwa Mahadewa, Nandi dan Agastya, simbol Hindu diperlihatkan hiasan yang dinamakan buah keber.



Candi Tegowangi





menurut Kitab Pararaton merupakan tempat Pendharmaan Bhre Matahun. Sedangkan dalam kitab Negarakertagama dijelaskan bahwa Bhre Matahun meninggal tahun 1388 M. Maka diperkirakan candi ini dibuat pada tahun 1400 M dimasa Majapahit karena pendharmaan seorang raja dilakukan 12 tahun setelah raja meninggal dengan upacara srada (nyadran kalau bahasa sekarang)



Secara umum candi yang berlatar belakag Hindu ini berdenah bujursangkar menghadap ke barat dengan memiliki ukuran 11,2 x 11,2 meter dan tinggi 4,35 m. Pondasinya terbuat dari bata sedangkan batu kaki dan sebagian tubuh yang masih tersisa terbuat dari batu andesit. Bagian kaki candi berlipit dan berhias. Tiap sisi kaki candi ditemukan tiga panel tegak yang dihiasi raksasa (gana) duduk jongkok; kedua tangan diangkat ketas seperti mendukung bangunan candi. Di atasnya terdapat tonjolan - tonjolan berukir melingkari candi diatas tonjolan terdapat sisi genta yang berhias.

Pada bagian tubuh candi ditengah-tengah pada setiap sisinya terdapat pilar polos yang menghubungkan badan dan kaki candi. Pilar-pilar itu tampak belum selesai dikerjakan. Di sekeliling tubuh candi dihiasi relief cerita Sudamala yang berjumlah 14 panil yaitu 3 panil disisi utara, 8 panil disisi barat dan 3 panil sisi selatan. Cerita ini berisi tentang pengruatan (pensucian) Dewi Durga dalam bentuk jelek dan jahat menjadi Dewi Uma dalam bentuk baik yang dilakukan oleh Sadewa, tokoh bungsu dalam cerita Pandawa. Sedangkan pada bilik tubuh candi terdapat Yoni dengan cerat (pancuran) berbentuk naga. Dihalaman candi terdapat beberapa arca yaitu Parwati Ardhenari, Garuda berbadan manusia dan sisa candi di sudut tenggara.



pahatan figur kepala yang aneh dan misterius


Kompleks Candi Dieng











Kompleks candi-candi Hindu yang dibangun pada abad ke-7, antara lain: Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi, Candi Setyaki, Gangsiran Aswatama, dan Candi Dwarawati.

Kawasan ini terletak sekitar 26 km di sebelah Utara ibukota Kabupaten Wonosobo, dengan ketinggian mencapai 6000 kaki atau 2.093 m di atas permukaan laut. Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin. Temperatur berkisar 15—20°C di siang hari dan 10°C di malam hari. Bahkan, suhu udara terkadang dapat mencapai 0°C di pagi hari, terutama antara Juli—Agustus. Penduduk setempat menyebut suhu ekstrem itu sebagai bun upas yang artinya "embun racun" karena embun ini menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.

Nama Dieng berasal dari bahasa Sunda Kuna "Di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa). Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Nama Dieng berasal dari Bahasa Sunda karena diperkirakan sebelum tahun 600 daerah itu didiami oleh Suku Sunda dan bukan Suku Jawa.

Kompleks Trowulan

Trowulan dipercaya sebagai ibukota kerajaan Majapahit. Tetapi yang masih menjadi misteri, apakah gambaran ibukota yang ditulis oleh Prapanca dalam Negarakertagama adalah Trowulan? Apakah pada jaman Hayam Wuruk ibukota Majapahit sudah berada di Trowulan? Dan misteri yang paling besar: dalam Negrakertagama, Lapangan Bubat tempat terjadinya insiden berada tak jauh dari ibukota Majapahit, dimanakah letaknya sekarang?
Reruntuhan Trowulan ditemukan pada abad ke 19 oleh Gubernur Jendral VOc saat itu, Sir Thomas Stamford Raffles yang mendapatkan laporan tentang adanya "..candi yang tersebar berserakan di suatu dataran..". Yang pada saat itu masih ditumbuhi tanaman yang lebat. Dan sisa2 kota ini diperkirakan terpendam oleh abu letusan Gunung Kelud yang terjadi berkali-kali.

Beberapa bangunan yang masih tersisa :


Candi (Gerbang) Wringin Lawang
Banyak yang percaya gerbang ini merupakan pintu gerbang keraton Majapahit.

kondisi saat ditemukan:




setelah dipugar:




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar